Senin, 07 Mei 2012

konsep tarbiyah dalam wahyu pertama


Siti Laela Janiah*
Berbicara tentang konsep pendidikan, jauh sebelum manusia mencapai peradaban, islam telah memperkenalkan konsep tarbiyah ideal yang telah melahirkan banyak tokoh-tokoh ulama mendunia. Kembali menguak fakta historis yang tak terbantahkan bahwa ajaran perdana yang diluncurkan islam adalah ‘iqra!’ (Al-Alaq: 1-5), perintah membaca yang merupakan media memperoleh ilmu. Hal ini mengindikasikan bahwa ilmu menempati posisi khusus dalam islam, posisi tertinggi yang tidak ditempati oleh apapun. Ilmu menjadi kata kunci dalam ajaran islam, dimana ia merupakan jaminan kehidupan manusia baik di dunia maupun di akhirat.
Secara harfiah, قرأ bermakna membaca yang sifatnya bersumber dari Allah SWT. dan manusia, maka yang menjadi objek bacaan bersifat umum segala sesuatu yang bersumber dari Allah dan manusia baik berupa teks, situasi, kondisi, lingkungan, sosial dan lain sebagainya.  Pengulangan kata قرأ pada ayat ketiga merupakan taukid (penekanan) bahwa keterampilan membaca ini harus dilakukan secara berulang sehingga tertanam dalam diri dan tercerminkan dalam tingkah laku (Al-Maraghi, 10: 30: 448).
Pada ayat kedua Allah memberitahukan bahwa ‘Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah’, hanya segumpal darah dan tidak lebih!, ini berarti tak ada yang patut disombongkan dari sosok manusia tetap Allah-lah yang Maha segala. Kaitannya dengan pendidikan bahwa harus berlaku tawadlu terhadap guru. Ayat tiga sebagai  taukid ‘bacalah! dan tuhanmu-lah yang Maha mulia’.
Ayat keempat berbunyi ‘yang telah mengajarkan manusia dengan (perantara) kalam’. Kalam adalah sesuatu yang dipotong runcing atau lebih dikenal dengan pena, ini bermakna media pendidikan yang berupa alat tulis, sekaligus terkandung makna anjuran menulis setelah membaca (belajar) sebagai tolak ukur keberhasilan suatu proses pembelajaran, karena itu syarat kelulusan peserta didik dari suatu jenjang pendidikan yang sesuai dengan ajaran islam adalah dengan karya tulis.
Allah SWT. dalam ayat kelima kembali mengulang kata علّم (mengajarkan) setelah sebelumnya di ayat keempat. Ini merupakan penekanan bahwa bukan saja peserta didik yang harus mengulang-ulang bacaannya, pendidikpun dianjurkan untuk mengulang-ulang pelajaran sehingga meresap pada diri peserta didik dan terealisasi dalam amal.
Demikianlah konsep pendidikan yang terkandung dalam wahyu pertama yakni surat Al-Alaq: 1-5 bahwa:
a.       Allah SWT. memerintahkan kepada manusia untuk berilmu dengan cara membaca secara kontinue.
b.      Media pembelajaran berupa kalam (alat tulis).
c.       Etika peserta didik terhadap pendidik; tawadlu dan memuliakannya.
d.      Untuk selanjutnya hasil bacaan diamalkan dalam bentuk tulisan, perbuatan dan mengajarkan kembali secara kontinue pula. Wallahu a’lam
Sumber:
Al-Maragi. Ahmad Musthafa. (1974). Tafsir Al-Maragi Juz 1. Beirut: Daar Al-Fikr
Rosyidin, Dedeng. (2009). Kosep Pendidikan Formal Islam. Bandung: Pustaka Nadwah

* Staf bidang kajian keilmuan 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar